Banyak pemilik usaha tahu omzet hariannya, tetapi tidak tahu berapa untung per produk. Kuncinya ada pada HPP, yaitu harga pokok penjualan: biaya barang yang benar-benar terjual. Artikel ini menjelaskan cara menghitung HPP dan laba kotor per produk dengan metode moving average, memberi contoh hitungan, lalu menunjukkan di mana Bakasir menampilkannya.
Apa itu HPP dan laba kotor
- HPP (harga pokok penjualan) adalah biaya per unit barang yang Anda keluarkan untuk mendapatkan barang yang terjual.
- Laba kotor adalah penjualan dikurangi HPP. Biaya lain seperti sewa dan gaji belum masuk.
- Margin adalah laba kotor dibagi harga jual. Markup adalah laba kotor dibagi HPP. Dua angka ini sering tertukar, padahal hasilnya berbeda.
Laba bersih baru muncul setelah biaya operasional dikurangkan. Bakasir menampilkan semuanya dalam satu laporan Profit & Loss: Total Income, Cost of Goods Sold, Gross Profit, Expenses, dan Net Profit.
Cara menghitung HPP dengan moving average
Moving average menggabungkan setiap pembelian baru ke dalam satu biaya rata-rata per unit. Rumusnya:
HPP rata-rata baru = (nilai stok lama + nilai pembelian baru) dibagi (jumlah stok lama + jumlah pembelian baru)
Metode ini adalah pilihan bawaan Bakasir. Pilihan lain di Settings > System > Costing Method adalah FIFO dan Batch-Specific; perubahan hanya berlaku untuk pergerakan stok berikutnya. Untuk apotek, bawaan awalnya FIFO karena batch penting.
Contoh hitungan (angka ilustrasi)
Angka berikut hanya contoh untuk menjelaskan rumus. Misalkan sebuah produk dijual Rp15.000 per unit.
| Langkah | Kejadian | Stok setelahnya | HPP rata-rata |
|---|---|---|---|
| 1 | Stok awal 10 unit @ Rp10.000 | 10 | Rp10.000 |
| 2 | Beli 20 unit @ Rp11.500 | 30 | Rp11.000 |
| 3 | Jual 5 unit | 25 | Rp11.000 |
| 4 | Beli 15 unit @ Rp12.000 | 40 | Rp11.375 |
| 5 | Jual 4 unit | 36 | Rp11.375 |
Langkah 2: nilai stok lama 10 x 10.000 = 100.000, ditambah pembelian 20 x 11.500 = 230.000, total 330.000 dibagi 30 unit, hasilnya Rp11.000 per unit.
Langkah 3: penjualan 5 unit dengan harga Rp15.000 menghasilkan pendapatan Rp75.000. HPP-nya 5 x 11.000 = Rp55.000, jadi laba kotor Rp20.000.
Langkah 4: nilai stok 25 x 11.000 = 275.000 ditambah 15 x 12.000 = 180.000, total 455.000 dibagi 40 unit, hasilnya Rp11.375.
Langkah 5: pendapatan 4 x 15.000 = Rp60.000, HPP 4 x 11.375 = Rp45.500, laba kotor Rp14.500.
Perhatikan bahwa penjualan di langkah 3 tidak berubah ketika harga beli naik di langkah 4. HPP dicatat saat barang terjual, sehingga laporan lama tidak ikut bergeser.
Margin dan markup untuk contoh yang sama
Pada harga jual Rp15.000 dan HPP Rp11.000, laba kotor per unit Rp4.000.
| Ukuran | Rumus | Hasil |
|---|---|---|
| Margin | 4.000 dibagi 15.000 | sekitar 26,7 persen |
| Markup | 4.000 dibagi 11.000 | sekitar 36,4 persen |
Saat menetapkan target, pilih satu ukuran dan pakai konsisten. Laporan Bakasir memakai kolom Margin.
Menghitung HPP dan laba kotor per produk di Bakasir
- Reports > Business Analytics > Profit & Loss untuk laba kotor dan laba bersih satu periode.
- Product Analytics menampilkan Qty Sold, Revenue, Cost, Profit, dan Margin untuk tiap produk, bisa diurutkan menurut laba atau margin. Brand Analytics dan Categories Analytics melakukan hal yang sama untuk merek dan kategori.
- Inventory Reports menampilkan nilai persediaan dan pergerakan stok.
Filter periode dan outlet ada di bagian atas, dan setiap laporan bisa diekspor ke PDF, Excel, atau CSV. Panduan lengkap: membaca laporan.
Checklist supaya HPP benar
- Isi Cost pada setiap produk dan stok awal. Biaya nol membuat laba tampak terlalu besar.
- Catat setiap barang masuk lewat Purchase, bukan hanya lewat penyesuaian, supaya biaya rata-rata ikut diperbarui. Lihat pembelian dan pengeluaran.
- Lakukan Stock Opname berkala agar jumlah stok sesuai rak.
- Pisahkan biaya operasional di Purchase > Expenses; jangan dimasukkan ke harga barang.
- Periksa pengaturan pajak. Harga inklusif dan eksklusif memengaruhi pendapatan yang Anda bandingkan; baca pajak UMKM dan kasir.
- Tinjau produk bermargin rendah tiap bulan sebelum membuat promo.
Satu keterbatasan perlu diketahui: Bakasir memakai biaya yang tercatat pada produk dan pembelian. Ongkos kirim atau diskon pemasok yang Anda tidak masukkan ke biaya barang tidak akan terhitung dalam HPP, jadi masukkan ke harga beli bila ingin laba kotor mencerminkannya.
Kesalahan umum saat menghitung HPP
- Memakai harga jual terakhir sebagai biaya. HPP adalah biaya yang Anda bayar, bukan harga yang Anda tagih.
- Menyebut markup padahal maksudnya margin. Pada contoh di atas, 36,4 persen adalah markup, sedangkan margin hanya 26,7 persen.
- Mengabaikan barang rusak atau kedaluwarsa. Catat lewat Inventory > Stock Adjustment dengan alasan Damage atau Expiry, supaya stok di aplikasi sama dengan rak.
- Tidak meninjau biaya yang naik. Saat pemasok menaikkan harga, periksa apakah harga jual masih menghasilkan margin yang Anda inginkan.
Langkah berikutnya
Pilih lima produk terlaris, hitung margin masing-masing, dan bandingkan dengan laporan Product Analytics. Untuk kebiasaan harian, baca 10 angka laporan penjualan harian. Pengaturan awal: set up bisnis Anda.
Siap mencoba sendiri? Paket Gratis berlaku selamanya dan tanpa kartu kredit.
Baca juga
Laporan Penjualan Harian: 10 Angka yang Perlu Dipantau Pemilik Usaha
Manajemen Stok Toko Kelontong dan Minimarket: Stok Menipis, Opname, Transfer Outlet
Pajak UMKM dan Kasir: PPN, Struk, dan Ekspor Faktur Pajak
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa bedanya HPP dan harga beli?
Harga beli adalah biaya satu pembelian. HPP adalah biaya per unit barang yang terjual, yang pada moving average berupa rata-rata dari semua pembelian yang masih membentuk stok.
Apakah mengubah metode costing mengubah laporan lama?
Tidak. Perubahan hanya berlaku untuk pergerakan stok berikutnya, dan laporan masa lalu tidak dihitung ulang.
Mengapa laba kotor di laporan berbeda dari hitungan saya?
Penyebab yang umum: biaya produk belum diisi, pembelian dicatat sebagai penyesuaian, diskon atau retur belum diperhitungkan, atau stok awal salah. Periksa Product Analytics per produk untuk menemukan sumbernya.






